BAB I
PENDAHULUAN
Hukum Ohm menyatakan bahwa
besar arus
listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus
dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya. Sebuah
benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya
tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan
kepadanya.Walaupun pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis
penghantar, namun istilah hukum tetap digunakan dengan alasan sejarah.
Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan
persamaan:

Dimana :
adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan Ampere.
adalah nilai hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam satuan ohm
Geolistrik merupakan salah
satu metode geofisika yang dimanfaatkan dalam eksplorasi sumber daya alam bawah permukaan. Prinsip kerja metode geolistrik adalah
mempelajari aliran listrik di dalam bumi dan cara mendeteksinya di permukaan
bumi. Penelitian dengan
geolistrik bertujuan untuk menentukan hubungan panjang bentang elektroda dan
kedalaan tanah terhadap resistivitas bawah perukaan tanah serta potensi air
tanah berdasakan nilai resistivitas tanah tersebut.
Tahanan jenis
merupakan salah satu sifat fisis dari suatu material dengan diketahuinya harga tahanan jenis maka dapat diketahui jenis
materialnya. Hubungan antara panjang
bentang elektroda dengan nilai resisrivitas adalah berbanding terbalik sesuai
dengan rumus resistivitas. Metode tahanan jenis didasari oleh hukum Ohm,
bertujuan mengetahui jenis pelapisan batuan didasarkan pada distribusi nilai resistivitas pada
tiap lapisan. Dengan menginjeksikan arus melalui dua elektroda arus maka beda
potensial yang muncul dapat terukur dari elektroda potensial. Variasi harga
tahanan jenis akan didapatkan jika jarak antara masing-masing elektroda diubah,
sesuai dengan konfigurasi alat yang dipakai (metode dopole-dipole). Pada metode
tahanan jenis diasumsikan bahwa bumi bersifat homogen isotropik, dimana nilai
tahanan jenis yang terukur bukan merupakan harga sebenarnya akan tetapi merupakan
nilai tahanan jenis semu (apparent Resistivity).
BAB II
SIFAT
KELISTRIKAN SUATU BATUAN
.
Dalam ilmu
geofisika pengetahuan dasar tentang sifat kelistrikan suatu batuan menjadi
penting. Hal ini menjadi penting karena berkaitan dengan metode pengukuran
bawah permukaan untuk mengetahui sifat kelistrikan suatu formasi atau anomali
bawah permukaan. Metode ini dikenal dengan nama geolistrik atau kelistrikan
bumi. Pada bagian batuan, atom-atom terikat secara ionik atau kovalen. karena
adanya ikatan ini batuan mempunyai sifat menghantarkan listrik. Aliran listrik
dalam batuan dapat di golongkan menjadi tiga macam, yaitu konduksi secara
elektronik, konduksi secara elektrolitik, dan konduksi secara dielektrik.
Konduksi secara elektronik. Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral mempunyai
banyak elektron bebas sehingga arus listrik di alirkan dalam batuan atau
mineral oleh elektron-elektron bebas tersebut. Aliran listrik ini juga di
pengaruhi oleh sifat atau karakteristik masing-masing batuan yang di lewatinya.
Salah satu sifat atau karakteristik batuan tersebut adalah resistivitas
(tahanan jenis) yang menunjukkan kemampuan bahan tersebut untuk menghantarkan
arus listrik. Semakin besar nilai resistivitas suatu bahan maka semakin sulit
bahan tersebut menghantarkan arus listrik, begitu pula sebaliknya. Resistivitas
memiliki pengertian yang berbeda dengan resistansi (hambatan), dimana
resistansi tidak hanya bergantung pada bahan tetapi juga bergantung pada faktor
geometri atau bentuk bahan tersebut, sedangkan resistivitas tidak bergantung
pada faktor geometri. Jika di tinjau suatu silinder dengan panjang L, luas
penampang A, dan resistansi R, maka dapat di rumuskan:






Konduksi secara elektrolitik. Sebagian besar batuan merupakan
konduktor yang buruk dan memiliki resistivitas yang sangat tinggi. Namun pada
kenyataannya batuan biasanya bersifat porus dan memiliki pori-pori yang terisi
oleh fluida, terutama air. Akibatnya batuan-batuan tersebut menjadi konduktor
elektrolitik, di mana konduksi arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolitik
dalam air. Konduktivitas dan resistivitas batuan porus bergantung pada volume
dan susunan pori-porinya. Konduktivitas akan semakin besar jika kandungan air
dalam batuan bertambah banyak, dan sebaliknya resistivitas akan semakin besar
jika kandungan air dalam batuan berkurang. Menurut rumus Archie:

Untuk nilai n yang sama, schlumberger
menyarankan n = 2.

Konduksi secara dielektrik. Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral bersifat
dielektrik terhadap aliran arus listrik, artinya batuan atau mineral tersebut
mempunyai elektron bebas sedikit, bahkan tidak sama sekali. Elektron dalam
batuan berpindah dan berkumpul terpisah dalam inti karena adanya pengaruh medan
listrik di luar, sehingga terjadi poliarisasi. Peristiwa ini tergantung pada
konduksi dielektrik batuan yang bersangkutan, contoh : mika.
BAB III
KESIMPULAN
Geolistrik adalah suatu metode geofisika
yang mempelajari sifat aliran listrik dalam bumi dan bagaimana mendeteksinya
dipermukaan bumi.
Metode geolistrik sendiri secara garis
besar dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1.
Geolistrik yang bersifat pasif.
Geolistrik dimana energi yang dibutuhkan telah ada terlebih dahulu sehingga tidak diperlukan adanya injeksi/pemasukan arus terlebih dahulu. Geolistrik macam ini disebut Self Potensial (SP).
2.
Geolistrik yang bersifat aktif.
Geolistrik dimana energi yang
dibutuhkan ada karena penginjeksian arus ke dalam bumi terlebih dahulu.
Geolistrik macam ini ada dua metode, yaitu metode Resistivitas (Resistivity)
dan Polarisasi Terimbas (Induce Polarization).
Sifat
dari resistivitas batuan itu sendiri ada 3 macam, yaitu :
1.
Medium konduktif.
Medium yang mudah menghantarkan arus
listrik. Besar resistivitasnya adalah 10-8 ohm m sampai dengan 1 ohm m.
1. Medium
semikonduktif.
Medium
yang cukup mudah untuk menghantarkan arus listrik. Besar resistivitasnya adalah
1 ohm m sampai dengan 107 ohm m.
3.
Medium resesif.
Medium
yang sukar untuk menghantarkan arus listrik. Besar resistivitasnya adalah lebih
besar 107 ohm m.
Arus listrik di dalam batuan dan mineral dapat di golongkan menjadi tiga macam, yaitu: konduksi secara elektronik, konduksi secara elektrolitik, dan konduksi secara dielektrik.
Konduktivitas
batuan berpori sangat bervariasi, tergantung pada volume, susunan pori dan
kandungan air didalamnya. Sedangkan konduktivitas air bergantung pada banyaknya
ion yang terdapat di dalam batuan itu sendiri.
gambarnya rumusnya gak keliatan mas
BalasHapus